Memuat...

Rabu, 16 Maret 2011

Postmodernisme

Postmodernisme: Kebangkitan Neospiritualitas


Bangunan itu sudah usang- sakit di mata bila melihatnya.
Pun pondasi nya sudah renta digerayangi guncangan bumi yang tidak henti-henti nya menjamah.
Namun jauh di dasar sana, tersimpan memori kolektif akan sisa-sisa semangat masa lampau.
Entah itu pun akan ikut serta berpesta dalam riuh nya postmodern, aku tak tahu.




 Agama di Era Postmodernisme: Kebangkitan neospiritualitas (misitisme, ocultisme dan takhayul)

Gambar diambil dari sini

Postmodernisme merupakan gerakan pemikiran, seni, sosial , agama dan budaya Yang menjadi titik balik dari modernisme. Peradaban modern dibangun atas narasi-narasi besar (Grand naratif) ex emiprisme, komunisme, fasisme, logos, spirit dll. Peradaban tersebut dibangun berdasarkan klaim-klaim universalitas, rasionalitas, sentralisme, ketunggalan yang terstruktur kuat dalam oposisi biner (Binary opposition) yakni benar/salah, baik/buruk, kaya/miskin moral/amoral. postmodernisme menolak segala bentuk grand narasi yang menjadi tumpuan peradaban modernisme. Posmo mengembangkan antifondational, antiidiologi, antiunversalisme, antiteori, antikemutlakan anti sentralisme, antiepistemologi, antistructur, antirasionalisme.

Kecenderungan postmodern untuk menolak segala bentuk narasi besar dengan segala fondasinya (spirit, logos, Being, sistem) dapat pula diartikan sebagai penolakan terhadap agama-agama besar (agama samawi), yaitu agama-agama yang memiliki klaim universal, kebenaran tunggal yakni Islam, Kristen dan yahudi. Yang Mereka tolak adalah klaim kebenaran universal yang dimiliki oleh ajaran-ajaran agama tersebut, tidak agama-agama itu sendiri karena tetap dihargai dalam kerangka pluralisme. Penolakan postmodern terhadap narasi besar dalam agama-agama telah mendorong kearah pembangkitan kembali (Revivalisme) kepercayaan-kepercayaan klenik kuno (primordial). Postmodern sebaliknya cenderung mengembangkan agama-agama noninstitusional serta konsep-konsep baru  tentang spiritualitas yang terlepas dari konsep-konsep dari agama- agama samawi. Postmodern lebih cenderung menggali dimensi supranatural, ocultisme, mistis, magis. Sehingga bermunculanlah konsep primordial seperti praktek tarot, horoskop, astrologi, tenaga dalam, Yoga, I ching, ajaran-ajaran mistik timur, meditasi, mumi, manusia serigala, vampir, pengobatan alternatif jarak jauh, petunjuk arwah, dll. Begitu juga ada upaya penggalian yang tak henti-hentinya terhadap ilmu hitam, racun, sihir hantu dan iblis.

Tak heran jika novel berbau-bau sihir dari J.K Rowling Harry Potter and the Sorcerers stone meledak dipasaran, atau film seperti lord of the ring dan laris manisnya buku tentang yoga, meditasi, mistisme, psikologi metafisika, aura merupakan gambaran obsesi masyarakat postmodern terhadap spiritualitas dangkal, spiritualitas yang berpusat pada pemenuhan nafsu-nafsu tubuh. Menciptakan paham-paham sinistik atheistic yang cenderung menghina dan merendahkan symbol-simbol agama dan melecehkan konsep ketuhanan dan membuat keyakinan-keyakinan sempalan, nyeleneh dan ocultism.

Selain itu posmo juga cenderung mengembangkan dan menghidupkan kembali sekte-sekte sesat yang bersifat eklusif, membangun penyimpangan-penyimpangan agama. Hal ini disebabkan Wacana ekonomi dan industrialisasi gagal memberikan iklim yang sehat bagi berkembangnya rasionalisme di kalangan masyarakat, maka dunia mistik dan irasionalitas pun mendapat tampat kembali di hati masyarakat. Masyarakat semakin antusias terhadap sensasi dunia supranatural. Hingga betapa banyak masyarakat kita lebih mempercayai ramalan mistik ketimbang analisis rasional dan argumentasi sehat dari para ulama dan agama. Bahkan dunia politik pun memerlukan analisis mistik (paranormal). Begitu juga dunia bisnis, yang menjadikan sector mistik ini begitu laris, sehingga memungkin kan mereka membuka office di perkatoran modern, dengan fasilitas internet dan handphone. Para Eksekutif rela mengeluarkan beberapa juta untuk membeli ramalan, jimat atau jin.

Inikah hasil yang diharapkan dari eskapisme masyarakat kontemporer dari nilai-nilai agama??? ketika gaung rasionalisme yang diwadahi oleh semangat modernisme telah gagal membuktikan klaimnya sebagai gerakan pencerahan umat manusia. Postmo merupakan parodi dan kritik terhadap klaim-klaim modernisme yang dianggap gagal dan omong kosong besar dalam peradaban umat manusia. postmo lahir sebagai bentuk ekspresi frustasi dan eskapisme dari modernisme. Sehingga postmo memparodi segala sesuatu termasuk dirinya sendiri akhirnya yang kita lihat hanyalah parodi dari segala sesuatu semuanya serba parodi.


Dalam kebingungan serta perjuangan iman melawan ego,

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa komentarnya.....

Baca Juga Artikel Ini