Memuat...

Sabtu, 12 Maret 2011

keluar Dari Tradisi


Oleh: Rhenald Kasali
keluar dari tradisi

Seorang teman pernah menceritakan pengalamannya sewaktu mengikuti pendidikan militer. Di akademi itu ia ditugasi untuk menyirami rumput setiap pukul lima sore dengan menggunakan selang air yang tersedia di lapangan. Ia melakukannya setiap hari dan pelatihnya, seorang berpangkat Kapten dengan tekun melakukan pemeriksaan, lima menit lewat jam lima. Ia memeriksa dengan seksama dari waktu ke waktu.
Tapi suatu ketika di bulan November langit agak gelap, dan tak lama kemudian hujan turun deras. Teman saya menepi di bawah teras sebuah sudut di lapangan itu. Sampai pukul lima hujan belum juga berhenti, dan teman saya masih duduk melamun di sudut itu. Tak lama kemudian pak Kapten datang dan memarahinya. “Ini sudah lewat jam lima, mengapa belum menyirami?!” bentaknya. “Tapi Kapten,” ujarnya, “Ini hujan.” “Lantas mengapa?! Bukankah Anda bisa pakai jas hujan?” bentaknya serius. Teman saya segera berdiri, lari, memakai jas hujan lalu menyemprot rumput yang sudah basah sambil menggerutu. Cerita di atas terdengar aneh, tetapi sesungguhnya banyak terjadi dan kita alami sehari-hari. Kita bekerja tidak menggunakan akal sehat dan memori masa depan, melainkan membiarkan diri terbelenggu dengan tradisi dan cuma belajar dari masa lalu. Mengapa harus menyiram rumput saat hujan? “Ya karena saya memerintahnya begitu.” “Karena ini sudah jam lima.”

Seorang teman yang sangat disiplin hidupnya suatu ketika memberi tahu saya bahwa resep dari keberhasilannya sederhana saja, yaitu bagaimana mengelola atau melakukan manajemen rutin. Artinya bagaimana kita menata semua itu menjadi rutin. Dengan menjadikan sesuatu rutin, maka kita bisa melakukan segala sesuatu secara otomatis, tanpa perlu banyak berpikir. Lama-lama ia menjadi kebiasaan (habit).Tetapi saya berpikir, habit tidak bisa diperoleh begitu saja. Kitalah yang mengakuisisi atau membentuk habit. Persoalannya, kata pepatah asing, “first we form habits, but then our habits form us.” Teman saya itu sekarang memang mulai terlihat aneh. Ia mulai kurang bisa menerima anak buahnya yang habitnya tidak sama dengannya. Anak-anak muda yang baru mulai bekerja ditudingnya sebagai kurang berdisiplin.

Teman saya tadi biasa berada di kantor pukul 7.30 pagi, dan sore hari jam 4.30 ia sudah masuk ke dalam mobilnya, pulang. Di ruang kerja saya melihat orang-orang lama bekerja dengan tekun. Tapi pukul empat sore semua kelihatan mulai resah. Sebagian pergi ke kamar mandi, sebagian sibuk menelpon minta dijemput dan sebagian lagi duduk seperti anak manis yang lagi menunggu jemputan di sekolahnya. Sementara itu anak-anak muda yang baru setahun bekerja, masih sibuk dengan mesin komputernya. Pada jam segitu, katanya, mereka malah merasa nyaman mengakses internet dan melakukan downloading atau uploading data. Kadang mereka berada di kantor hingga jam delapan malam, kadang mereka pulang pagi hari. Tapi esoknya mereka baru datang ke kantor jam sepuluh. Bos tentu saja bingung melihat mereka.

Manusia memang dilahirkan dengan tradisi zamannya masing-masing. Pada tahun 70-80-an manajemen mengajarkan tradisi keteraturan, bekerja dengan teratur, tertib, prosedural dan taat azas. Sejak tahun 90-an kondisi keteraturan ini tiba-tiba berubah. Sesuatu yang tadinya begitu tenang dan membutuhkan waktu menunggu sampai tiga hari atau seminggu, tiba-tiba berubah menjadi begitu cepat. Keteraturan yang tadinya kita bentuk dan telah berubah menjadi habit tiba-tiba menjadi serba kacau. Anak-anak muda yang sudah biasa bekerja tanpa batas waktu atau tempat tentu saja punya tradisi yang berbeda. Akan terdengar aneh bila bos kemudian datang ke ruang kerja mereka pukul 4.30 sore dan ia berkata seperti Kapten di akademi militer, “Mengapa belum pulang? Ini sudah jam 4.30!”

Orang-orang yang terjebak dengan tradisi selalu ada di mana-mana. Mereka berorientasi pada masa lalu dan selalu mengajak Anda kembali ke masa lalu. Bagi mereka cara kerja yang benar adalah cara yang mereka lakukan di masa lalu. Dan kalau dibantah, ujung-ujungnya mereka akan memulai denga kata, “Pokoknya….” Padahal yang sekarang dibutuhkan adalah membuat aturan-aturan baru yang berlaku di masa depan. Anak-anak muda itu, di sekolah-sekolah manajemen selalu kami tanamkan semangat perubahan. Rumus bakunya cuma satu: “First of all, break all the rules.” Artinya, jangan terbelenggu oleh tradisi, tetapi keluarlah dari sana dan buatlah tradisi-tradisi baru.
Untuk keluar dari tradisi, kalau tidak mau terbentur atau patah, semua pihak bertanggung jawab dalam menciptakan atmosfir perubahan. Minimal kita tidak menghalangi mereka yang bermain dengan aturan-aturan baru. Tanpa iklim yang benar dan menyejukkan, perubahan hanya akan menimbulkan rasa takut yang besar, dan perang mulut yang tak ada ujungnya. Bagi pemimpin mereka harus siap dengan simbol-simbol baru, tindakan-tindakan baru, dan berikan penghargaan terhadap siapa saja yang berhasil mewarnai perubahan itu.

Saya jadi teringat dengan ucapan Kazuo Inamori (Founder Kyocera Corporation): “First, I ask everybody to make today better than yesterday, then make tomorrow better than today. Second, as the head of the enterprise, I must lead the way by personally being creative and encouraging others to follow. Third, I pay special attention everyday, 365 days a year. Finally, I avoid looking for a magical “quick fix” that will make the company grow.” Pemimpin memang punya peranan untuk menciptakan perubahan dan membawa suatu organisasi keluar dari masa lalu, tapi ia tak bisa bekerja sendiri. Kita perlu memperteguh keberanian dan inovasi mereka.

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa komentarnya.....

Baca Juga Artikel Ini