Sabtu, 12 Maret 2011

Berlian Di Dalam Hati

 Berlian Di Dalam Hati
Penulis: Gede Prama

Add caption
Di tengah-tengah zaman yang dililit krisis, ditambah dengan produktifnya masyarakat memproduksi ketakutan di sana-sini, bisa dimaklumi kalau ada banyak orang yang amat haus akan hiburan. Dan di kota-kota besar seperti Jakarta, salah satu tempat berlabuh dalam hal ini adalah mal. Mata memang amat dimanjakan oleh tempat-tempat seperti ini. Dari pakaian, perhiasan, sampai pemandangan hidup dalam bentuk banyaknya pria ganteng dan wanita cantik.



Dalam sebuah kesempatan menyegarkan pikiran, saya pernah dikejutkan oleh mahalnya harga berlian. Tidak sepantasnya saya sebutkan angkanya pada kesempatan seperti ini. Sebagai akibat pengalaman tadi, bila bertemu sejumlah orang kaya, saya coba perhatikan perhiasannya. Kalau-kalau ada yang mengenakan berlian yang membuat saya heran tadi. Dan memang benar, sebagian orang kaya rela membelinya, dan bangga mengenakannya. Dan sayapun ikut senang serta bersyukur karena punya sahabat dengan kemampuan ekonomi yang demikian tingginya.

Di balik rasa kagum dan bangga terakhir, saya sebenarnya mau bertutur, bahwa kita semua memiliki berlian dengan harga yang tidak terhingga. Dan yang paling penting, bisa membahagiakan kita dengan tingkat kebahagiaan yang tidak bisa ditandingi. Kalaupun sejuta berlian mahal ditandingkan dengan berlian yang ada di dalam diri kita, berlian terakhir tetap tidak terdandingi. Andaikan ada seratus mata hari dijejerkan bersamaan di pantai Kuta yang indah di sebuah sore, tetap tidak bisa mengalahkan keindahan permata di dalam hati. Seandainya ada insinyur yang bisa membuat seribu air terjun seperti Niagara, tetap bukan bandingan yang sebanding dengan berlian yang kita bawa sejak dalam kandungan sang Ibu.

Persoalannya, ada banyak sekali orang yang tidak tahu eksistensi permata di dalam hati. Boro-boro bisa menikmatinya, tahu saja tidak. Buktinya, ya itu tadi, orang mencari-cari permata dan hiburan di luar diri. Lebih dari itu, ada tidak sedikit orang yang mengisi seluruh hidupnya dengan kegiatan mencari permata dan hiburan di luar diri.

Bila hidup diibaratkan dengan bepergian, orang-orang jenis terakhir mirip dengan orang yang datang ke counter tiket kereta api. Mau membeli tiket, kelas eksekutif dan ketika ditanya tujuannya, hanya menggeleng sebagai tanda tidak tahu.

Kalau boleh jujur, sayapun pernah mengisi hidup seperti pembeli tiket kereta api di atas. Dan setelah dibuat lelah tidak tergantikan, ada saja jalan yang membuat saya telah lama banting stir.Yang perlu disadari sejak awal, pencari berlian di luar diri, lebih mungkin bisa menjadi konglomerat material. Sedangkan, pencari-pencari di dalam diri, lebih mungkin menjadi konglomerat spiritual.

Tanpa bermaksud merendahkan konglomerat material dan meninggikan konglomerat sipritual, izinkan saya berbagi cerita tentang perjalanan saya sejauh ini. Dengan sebuah harapan kecil, mudah-mudahan bisa menjadi pembanding berguna bagi banyak orang.

Modal pertama dan paling utama dalam melakukan penggalian permata di dalam diri adalah hati yang penuh dengan rasa syukur. Ini penting dan teramat penting, disamping karena menghemat tenaga yang terbuang percuma, juga karena dalam hati demikian bermunculan berlian di mana-mana. Apa saja yang Anda miliki sekarang ini ? sekali lagi sekarang ini, bukannya nanti ? coba belajar mensyukurinya dengan penuh terimakasih.

Tidak hanya wajah dan penampilan yang berubah total oleh rasa syukur terakhir, melainkan juga kesehatan dan kualitas hubungan bersama orang lain dan Tuhan. Sebuah penelitian pernah mewawancarai sekitar lima ratus orang yang terkena serangan jantung. Lebih dari delapan puluh persen dari responden, memiliki rasa syukur yang teramat minim terhadap hidupnya. Sebagian bahkan berhobi berat menyalahkan orang lain dan lingkungannya.

Modal kedua adalah kesediaan untuk senantiasa dan selalu menggali, menggali dan menggali. Mirip dengan berlian yang sebenarnya, berlian di dalam hati juga mesti digali terus. Sepanjang hidup, tugas kita hanya menggali. Dan itu tidak bisa didelegasikan ke orang lain. Kita mesti mecarinya sendiri. Sarananya ada banyak sekali. Kebetulan, saya menggunakan kendaraan meditasi. Dan hebatnya, kita semua dilimpahi lahan yang demikian luas (baca : waktu) sebagai tempat menggali.

Kekeliruan yang dilakukan banyak orang – termasuk pernah terjadi dalam diri saya sendiri – bukannya menggali langsung sendiri, melainkan duduk di hotel bertingkat, kemudian menonton orang menggali dari jauh. Dalam keadaan demikian, sebagian besar merasa sudah menggali. Ini yang terjadi pada orang-orang yang hanya membaca, menulis, berbicara, dan meng-claim sudah melakukan penggalian. Tentu saja ini perlu diluruskan. Kegiatan menggali hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berani tangan, kaki dan badannya kotor oleh lumpur kehidupan.

Modal ketiga, ladang setiap orang amatlah unik. Tidak ada lahan yang persis serupa. Untuk itu, berlian-berlian kehidupan lebih mungkin ditemukan oleh mereka yang mengenali ladang dan lahan masing-masing. Ini bisa ditemukan, kalau kita rajin bertanya tiada henti : dari bahan apakah badan dan jiwa ini terbuat ? Ini bisa ditanyakan ke diri sendiri ketika merenung, ditanyakan ke orang tua dan keluarga, atau sumber terpercaya lainnya. Pesan saya sederhana, hindari bertanya terlalu banyak pada orang lain.

Selebihnya, silahkan temukan sendiri cara dan pendekatan yang lebih cocok dengan diri Anda sendiri. ***

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa komentarnya.....

Baca Juga Artikel Ini