Sabtu, 12 Maret 2011

Mental Kompetitif dan Pengembangan Potensi Diri

 Oleh: Rhenald Kasali

Ada sebuah jokes yang sering saya dengar dari mahasiswa saya. Mereka bilang, sarjana yang pinter dan kaya biasanya hanya akan hidup pas-pasan di hari tua. Kelompok ini akan terlalu gampang diterima oleh segenap kalangan. Karir sarjana yang sedikit bodoh tentu tak semulus itu. Untuk mencari kerja saja, dia sudah harus bersaing. Setelah kerjapun karirnya tak maju-maju karena prestasinya dianggap pas-pasan.

Karena merasa karirnya stuck, dia pun memutuskan keluar dari pekerjaan dan menciptakan bisnis sendiri. Dalam bisnis ukuran yang utama adalah kemampuan bersaing, bukan kepintaran, sang sarjana bodoh tadi justru berhasil melaluinya dengan mulus.

Tamu saya dalam talk show di TPI tanggal 6 Mei 2003 lalu bukan tergolong mahasiswa bodoh itu. Pengalamannya dalam bersaing dengan hidup justru tak kalah beratnya. Beliau adalah Dr. Seto Mulyadi, tokoh pendidikan yang sangat dekat dengan anak-anak dan biasa dikenal dengan nama Kak Seto itu.

Tak banyak yang tahu bahwa tokoh yang berpenampilan rapi ini pernah mengalami hari-hari yang sangat berat pada waktu mudanya. Masa kanak-kanak dilaluinya bersama sang ibu di Surabaya dalam kemiskinan hingga untuk membiayai pendidikan SLTA-nya pun Seto harus mencari uang sendiri.

Seto muda juga pernah dilanda guncangan jiwa berat karena cita-citanya masuk Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga kandas. Beban psikologis itu semakin terasa berat karena pada saat yang sama saudara kembarnya, Kresno Mulyadi, justru berhasil diterima di fakultas tersebut.
Tak mampu menahan beban psikologis itu, dia memutuskan untuk minggat ke Jakarta. Dia memulai kehidupan di kota ini dengan menjalani kehidupan keras sebagai tukang ngamen di Blok M, loper koran, tukang batu, dan aneka kerja serabutan untuk bertahan hidup. Kehidupannya sedikit berubah saat dia diterima menjadi pembantu di keluarga bapak dan ibu Kasur, tokoh senior pendidikan anak-anak itu. Yang agak luar biasa, di tengah beratnya beban hidup itu adalah Seto tetap tidak melupakan cita-citanya untuk menjadi dokter. Di tahun ajaran berikutnya, dia kembali mendaftar ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Meskipun pada akhirnya gagal juga.

Beban psikologis yang dipikul Seto muda ini kemudian sedikit berkurang karena Pak Kasur melihat adanya potensi terpendam dalam diri Seto. Pak Kasur melihat bahwa dalam diri Seto yang sangat ingin menjadi dokter itu sebenarnya tersimpan hasrat kuat untuk selalu dekat dengan anak-anak.
Kisah singkat Kak Seto tadi memberikan banyak pelajaran bagi kita, yaitu pertama, sukses hanya bisa diraih jika kita memiliki mental of winning. Di tengah kehidupannya yang amat sulit itu, Seto tidak cuma berusaha untuk bertahan hidup, tapi dia justru berusaha menjadikan masa-masa itu sebagai garis start menuju masa depan.

Mental of winning semacam ini akan muncul jika diasah dan dipelihara dengan baik. Pada dasarnya semua manusia punya potensi ini, namun untuk memunculkannya diperlukan stimulus-stimulus tertentu. Kak Seto sendiri mengakui bahwa mental semacam ini muncul setelah dia melihat bagaimana ibunya berusaha bertahan hidup setelah ditinggal mati suaminya. Tanpa stimulan yang baik, jangankan mental of winning, mental of surviving pun belum tentu akan muncul.

Saya ingin memberikan catatan, bahwa mental of winning ini sebenarnya bisa distimulasi oleh keinginan kuat dari dalam diri sendiri. Kompas edisi Minggu (4/5) menyajikan sebuah feature yang amat menarik mengenai sejumlah mahasiswa yang “terpaksa” bekerja keras sembari kuliah. Ada yang menjadi pemulung, ada yang berdagang kue, gorengan, dan ada yang mendirikan usaha laundry.

Seperti pengakuan mereka, “kegiatan luar kampus” itu mula-mula mereka lakukan sebagai upaya untuk bertahan hidup, namun, setelah dirasakan nikmatnya, pelan-pelan mereka justru mengembangkan usaha itu. Bukan lagi sekadar untuk bertahan hidup, tapi untuk mencetak kekayaan.

Pelajaran kedua dari kisah Kak Seto ini adalah bahwa sukses akan lebih gampang diraih bila kita tahu potensi apa yang ada dalam diri kita. Seringkali orang berpikir bahwa “apa yang dia inginkan” adalah yang terbaik bagi dirinya. Padahal, akan jauh lebih baik jika orang berpikir, “potensi apa yang bisa saya kembangkan dari diri saya”.

Trauma yang menimpa Seto di masa kecilnya karena adik bungsunya meninggal akibat malaria, ternyata meninggalkan bekas yang amat dalam pada dirinya. Trauma itu membuat dia selalu rindu pada kehadiran anak kecil dan hal itu sekaligus menjadi potensi terkuat dalam dirinya. Berkat pengembangan potensi ini, Kak Seto sekarang memiliki chain sekolah Mutiara Indonesia yang sekarang memiliki 20 cabang di berbagai kota di Indonesia. ***

Artikel ini pernah dimuat di harian sore SUARA PEMBARUAN tanggal 7 Mei 2003.

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa komentarnya.....

Baca Juga Artikel Ini