Memuat...

Rabu, 16 Maret 2011

"Aku Bukan Manusia, Aku Adalah Dinamit"

run

"Aku Bukan Manusia, Aku Adalah Dinamit"

Hari ini banyak sekali yang tertangkap oleh mataku.
Ribuan partikel menyatu dalam konsep yang aku ciptakan untuk kalian,
Meski hanya sekadar Hipotesa........



Sajak bermula dari ketertarikanku memaknai progresivitas dan pelbagai perubahan manusia-manusia disekelilingku.
Aku melihat banyak sekali kemajuan dan tumpuan yang kalian ciptakan.
Aku melihat kalian yang saat ini sedang berupaya mengejar mimpi kalian,dengan cara kalian masing-masing.
-Gemar beribadah dan hidupnya dipenuhi unsur-unsur religiusitas.
-Rajin membaca buku untuk menambah wawasan.
-Belajar setiap hari untuk menuntut nilai tinggi di institusi formal yang kalian tempati.
-Bekerja keras dengan berbagai profesi yang aku sadari bukan pekerjaan mudah dan menyenangkan.
-Menjadi pandai bermain musik dengan lantunan harmoni indah yang membuatku terperanga.
-Menjadi atlit profesional dengan berderet piala di kamar kalian.
-Menjadi fotographer profesional yang menangkap momen-momen sejarah kehidupan.
-Aktivis yang kesehariannya dipenuhi dengan rutinitas kegiatan dan kritiknya selalu terdengar vokal.
-Pendaki gunung yang telah menaklukan berbagai rintangan alam.
-Suami yang bertanggungjawab membina keluarga yang harmonis.
-Pengabdi masyarakat yang kesehariannya penuh oleh kegiatan sosial non-profit.
-Sastrawan hebat.
-Penulis handal.
dan masih banyak lagi.

Aku melihat kalian sekarang telah tumbuh menjadi seorang "pria", kawan-kawanku.
Aku melihat kalian sekarang telah tumbuh menjadi seorang yang berguna.
Memupuk asa demi masa depan yang lebih baik.
Aku turut bahagia dengan apa yang kalian capai sampai saat ini.
Kalian semua hebat,
bahkan aku iri pada kalian.

Kemudian, aku melihat kalender: 27 April 2010.
Hari ini, sampai saat ini, aku telah berbuat apa???
Apa yang dapat kupertanggungjawabkan sebagai seorang anak kepada ibunya?
Apa yang harus kubanggakan?

Sementara wanita tua itu duduk rapuh bermalaman menanti kabar dari anaknya.
Duduk memangku dagu berharap cemas penuh ketakutan.
Lalu disiang hari beliau kembali meronta bersama terik matahari, demi anaknya.
Ta' hanya itu, kolega dan rekan sepekerjaannya pun selalu sibuk membanggakan anak-anaknya.
Menari indah ditemani lantunan kisah klasik kesuksesan anaknya.
Aku tau, beliau semakin cemas bahkan iri pada teman-temannya.
Malam kembali menghampiri wanita tua itu.
Kecemasan dan kegelisahaan merapat bersama lelahnya hari.

Lalu,
Lelaki paruh baya yang kini sedang tertidur tentram disisi-Nya.
Yang telah menjadi sosok Ayah, meski hanya sesaat.
Sisanya, hanya dalam cerita wanita tua yang selalu menceritakan Ayah tersebut bagi anaknya.
Tidak lebih,
Hanya cerita!!!
Mungkin jika beliau dapat melihat anaknya kini,
rasa cemas dan ketakutan akan menjadi banyang hitam dalam peristirahatannya.
Bayang hitam yang selalu menghampirinya.
Wanita tua dan sosok Ayah tersebut telah melahirkan seorang anak, satu-satunya anak.

*Maafkan aku.
Aku tidak ingin menjadi produk peradaban, aku ingin menjadikan peradaban sebuah produk yang ku ciptakan.

kini,
Aku hari ini tidaklah lebih dari seorang gelandangan.
yang mengada dalam setiap celah kekosongan.


Tapi,
"Aku bukan manusia, aku adalah dinamit" (Nietzsche).
Yang siap meledakkan super daya ketika waktunya telah tiba.

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa komentarnya.....

Baca Juga Artikel Ini