Sabtu, 12 Maret 2011

Menyelami Keindahan Kesedihan

Menyelami Keindahan Kesedihan

Tidak bisa ditolak, tidak bisa diusir, apa lagi dipasangi pagar besi, ada saat-saat di mana sahabat kehidupan yang bernama kesedihan datang berkunjung. Ada saja jalan dan cara yang menyebabkan kesedihan datang berkunjung. Itu juga yang kadang terjadi dalam sepenggal perjalanan kehidupan saya.


Kematian Ayah, Ibu dan Ibu mertua dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama sempat membuat tumpahnya air mata yang tidak sedikit. Lebih-lebih sebagai anak bungsu yang mengenal orang tua dalam kurun waktu yang paling pendek. Ada rangkaian hutang yang belum puas untuk dibayar. Ada hawa-hawa rindu seoramh anak yang belum sepenuhnya terobati. Tetapi apapun yang terjadi, tetap perpisahan di tingkat tubuh fisik melalui kematian harus dijalani.

Ketika masih menjabat sebagai CEO sebuah perusahaan dengan dua ribuan karyawan, pernah ada seorang teman lama dan dekat yang “memecat” saya. Ketika diminta tolong untuk mencarikan orang (sahabat ini seorang head hunter), dan penawarannya ditawar, ternyata niat untuk minta discount berujung pada surat putus hubungan. Dan ketika dihubungi lewat telepon, kata-kata yang muncul tidak membukakan pintu maaf. Lagi-lagi kesedihan berkunjung.

Demikian juga tatkala seorang sahabat mengirimkan e-mail karena tersinggung akibat serangkaian miskomunikasi yang dilakukan anak buah. Hanya karena persoalan sponsorship hampir saja saya kehilangan seorang sahabat. Dan untungnya sang kesabaran menuntun saya untuk menelpon, mendengarkan, meminta maaf dan akhirnya bisa diselesaikan. Namun, kesedihan terlanjur mengintip di pintu kehidupan sana.

Ada memang teman yang menyebut kehidupan demikian dengan kehidupan yang terlalu sensitif. Dan apapun sebutannya, tidak ada orang yang bisa menolak berkunjungnya kesedihan.

Di beberapa bagian dunia, ada masyarakat yang menyebut kesedihan sebagai akibat dari perbuatan buruk sebelumnya atau di masa lalu. Ada masyarakat lain yang menyimpulkannya sebagai hukuman. Sehingga kesedihan muncul dengan wajah yang menakutkan dan menyedihkan. Dan larilah manusia jauh-jauh dari sahabat kehidupan yang bernama kesedihan. Semakin jauh manusia lari dari kesedihan, semakin cepat sahabat kesedihan mengejarnya dari belakang.

Disebut sahabat, karena kesedihan tidak selamanya seperti musuh yang senantiasa membawa batu, palu dan pisau untuk menyakiti. Dalam sinar-sinar kejernihan, kesedihan bisa membawa bunga-bunga kebijaksanaan, kedewasaan, kearifan dan kematangan. Meminjam bahasa Kahlil Gibran dalam The Prophet, ketika kita bercengkerama dengan kebahagiaan di kamar tamu, kesedihan sedang menunggu di tempat tidur. Tidak bisa kita lari terlalu lama dari sahabat serumah. Dan bukankah ini sejenis kedewasaan, kearifan dan kematangan yang ditunjukkan wajahnya oleh sinar-sinar kesedihan ?

Dalam bentuknya yang lebih indah lagi, kesedihan bisa juga menjadi lilin terang yang menerangi beberapa wilayah gelap (blind spot) yang selama ini tidak terlihat. Kematian orang-orang tercinta, sebagai contoh, awalnya memang menghadirkan air mata, tetapi belakangan jadi tahu kalau orang-orang yang sudah tiada memiliki peran-peran yang jauh lebih besar dari yang pernah terbayangkan. Dipecat teman, sebagai contoh lain, membukakan cakrawala bagi saya, kalau ada orang yang tersinggung kalau penawarannya ditawar. Sahabat yang tersinggung juga demikian, ia membimbing kita untuk tahu sumber-sumber ketersinggungan orang lain.

Ada lagi keindahan lebih tinggi yang dihadirkan kesedihan. Hanya dengan kesedihanlah wajah kebahagiaan muncul lebih indah kemudian. Bahkan, kebahagiaan yang biasa-biasapun bisa berwajah indah ketika manusia baru saja melewati kesedihan. Sebutlah nasi putih sama sayur asem saja, ia terasa enak sekali begi perut yang baru melewati rasa sedih akibat kelaparan. Sebagai bukti lain, orang-orang yang pernah bersedih, menikmati kebahagiaannya dengan kualitas rasa syukur yang jauh lebih baik.

Di puncak dari semua itu, kesedihan membawa manusia pada kualitas kehidupan tinggi yang bernama kesabaran. Dan dengan kesabaran, bukankah manusia bisa menyeberangi lautan kehidupan yang paling dahsyat sekalipun ? Gelombang pasang perceraian, perkelahian di pinggir jalan, peperangan antarsuku dan antarnegara, perpecahan kepemilikan perusahaan hanyalah sebagian contoh samudera kehidupan yang bergejolak, namun bisa diseberangi dengan perahu kesabaran.

Berkaca dari semua ini, tubuh manusia memang manja sekali. Buktinya selalu menolak datangnya kesedihan. Namun, suara-suara kejernihan bertutur lain, kesedihan juga ladang-ladang luas keindahan. Kesedihan tidak saja membawa clurit menakutkan, tetapi juga membimbing ke rangkaian kualitas yang tidak bisa dilakukan oleh kebahagiaan yang paling tinggi sekalipun.

Entah siapa yang membimbing, tiba-tiba di tengah suasana sedih akibat seorang sahabat tersinggung, tangan-tangan ini seperti menulis sendiri di atas key board komputer. Begitu berhenti sebentar, tiba-tiba mengambil buku Deepak Chopra yang berjudul The Deeper Wound, dan di salah satu bagian covernya berisi tulisan sederhana : true self contains the light that no darkness can enter. Diri ini yang sebenarnya berisi sinar yang tidak bisa dikalahkan kegelapan manapun. Dan kesedihan, sebagaimana proses kontemplasi di atas, adalah salah satu kekuatan yang bisa membuat sinar tadi mulai bercahaya secara perlahan. Sudahkah Anda menemukan cahaya tadi melalui perahu kesedihan ? *****

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa komentarnya.....

Baca Juga Artikel Ini