Kamis, 17 Maret 2011

Hukum Sentuhan Kulit Jabat Tangan Menurut ISLAM

Hukum bersentuhan kulit antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram itu termasuk berjabatan tangan hukumnya haram. Benarkah Rasulullah SAW pernah menyentuh kulit wanita non mahram ?
Mari kita kupas masalah ini dengan mengutip dalil hadits dan kajian-kajian fiqih para ulama :
1.      Yang mengharamkan secara Mutlak
Para ulama Jumhur termasuk keempat imam mazhab umumnya mengatakan bahwa sentuhan kulit antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram hukumnya haram. Mereka mendasarkan pendapatnya itu pada banyak dalil yang erserak disana sini. Baik yang bersifat naqli atau pun yang aqli. Diantaranya yang sering dikemukakan antara lain adalah dalil-dalil berikut ini:

a.    Menutup Pintu Fitnah (saddudz-dzari`ah)
Dalil yang terkuat dalam pengharaman sentuhan kulit antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram adalah menutup pintu fitnah (saddudz-dzari`ah), dan alasan ini dapat diterima tanpa ragu-ragu lagi ketika syahwat tergerak, atau karena takut fitnah bila telah tampak tanda-tandanya
.
18552_107543282593425_100000132608221_203342_1507037_n.jpg
b.    Hadits Rasulullah SAW

Lebih Baik Ditusuk Jarum Besi Dari Pada Menyentuh Wanita
`Dari Ma`qil bin Yasar dari Nabi saw., beliau bersabda: Sesungguhnya
18552_107543282593425_100000132608221_203342_1507037_n.jpg ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu
 lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.`(HR. Thabrani dan Baihaqi)

c.    Rasulullah SAW tidak menjabat tangan perempuan ketika bai`at
Dari asy-Sya`bi bahwa Nabi saw. ketika membai`at kaum wanita beliau membawa kain selimut bergaris dari Qatar lalu beliau meletakkannya di atas tangan beliau, seraya berkata, `Aku tidak berjabat dengan wanita.` (HR Abu Daud dalam al-Marasil)
Aisyah berkata, `Maka barangsiapa diantara wanita-wanita beriman itu yang menerima syarat tersebut, Rasulullah saw. berkata kepadanya, `Aku telah membai`atmu – dengan perkataan saja – dan demi Allah tangan beliau sama sekali tidak menyentuh tangan wanita dalam bai`at itu; beliau tidak membai`at mereka melainkan dengan mengucapkan, `Aku telah membai`atmu tentang hal itu.`
2.    Yang Membolehkan
Ada juga beberapa hujjah yang terkadang muncul untuk tidak memutlakkan keharaman sentuhan kulit antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram. Misalnya bila wanitanya adalah orang yang lanjut usia, tua atau sudah uzur. Diantaranya dalil-dalil yang bisa dikemukakan untuk mendukung pendapat ini adalah :
a.    Ummu Athiyyah Tentang Rasulullah SAW Menjabat Tangan Wanita Ketika Bai`at.
18552_107543282593425_100000132608221_203342_1507037_n.jpg“Dari Ismail bin Abdurrahman dari neneknya, Ummu Athiyah, mengenai kisah bai`at, Ummu Athiyah berkata: Lalu Rasulullah saw. mengulurkan tangannya dari luar rumah dan kami mengulurkan tangan kami dari dalam rumah, kemudian beliau berucap, `Ya Allah, saksikanlah.“(Ibnu Hibban, al-Bazzar, ath-Thabari, dan Ibnu Mardawaih
b.   18552_107543282593425_100000132608221_203342_1507037_n.jpgHadits bahwa Budak Wanita Memegang Tangan Rasulullah SAW
“Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata: `Sesungguhnya seorang budak wanita diantara budak-budak penduduk Madinah memegang tangan Rasulullah saw., lalu membawanya pergi ke mana ia suka.` (HR. Bukhari dalam Shahih-nya pada `Kitab al-Adab`)
Dalam riwayat lainnya juga ada hadits senada yaitu :
“Dari Anas juga, ia berkata:`Sesungguhnya seorang budak perempuan dari budak-budak penduduk Madinah datang, lalu ia memegang tangan Rasulullah saw., maka beliau tidak melepaskan tangan beliau dari tangannya sehingga dia membawanya perg ke mana ia suka.` (HR. Imam Ahmad)
Ibnu Majah juga meriwayatkan hal demikian.
Kalau kita perhatikan riwayat yang sahih dari Rasulullah saw., niscaya kita jumpai sesuatu yang menunjukkan bahwa semata-mata bersentuhan tangan antara laki-laki dengan perempuan tanpa disertai syahwat dan tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah tidaklah terlarang, bahkan pernah dilakukan oleh Rasulullah saw., sedangkan pada dasarnya perbuatan Nabi saw. itu adalah tasyri` dan untuk diteladani:
c.     Hadits Bahwa Rasulullah SAW Tidur Di Pangkuan Ummu Haram
Dari Anas bahwa Nabi saw. masuk ke rumah Ummu Haram binti Milhan dan beliau diberi makan. Ummu Haram adalah istri Ubadah bin Shamit, dan Ummu Haram membersihkan kepala beliau (dari kutu) lalu Rasulullah SAW tertidur …` (HR Bukhari dalam Kitabul jihad Was-Sair
18552_107543282593425_100000132608221_203342_1507037_n.jpg
bab Ad-du`au biljihadi Wasysyahadatu lirrijali wannisa` no. 2580 dan Kitabul Isithsan no. 5810).
Dari Anas dari bibinya Ummu Haram binti Milhan, Ummu Haram berkata,`Rasulullah SAW tidur di dekat aku lalu bangun dan tersenyum …(HR Bukhari dalam Kitab Al-Jihadu Wassair bab Fadhlu Man Yusri`u Fi sabilillah… no. 2590).
Oleh Ibnu Abdil Barr, hadits ini dikomentari bahwa Ummu Haram itu saudara
sesusuan Rasulullah SAW. Dia juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW itu ma`shum dan tidak punya syahwat sehingga boleh bersentuhan dengan non mahram.
d.   Hadits Rasulullah SAW yang masuk ke tempat Ummu Sulaim.
Diceritakan bahwa Nabi saw. tidak pernah masuk ke tempat wanita selain istri-istri beliau, kecuali kepada Ummu Sulaim. Lalu beliau ditanya mengenai masalah itu, dan beliau menjawab, `Saya kasihan kepadanya, saudaranya terbunuh dalam peperangan bersama saya.` Yakni Haram bin Milhan, yang terbunuh pada waktu peperangan Bi`r Ma`unah.` (Lihat kitab Shahih Bukhari)
e.     Makna `Menyentuh` Bukan Sekedar Bersentuhan
Kalimat `menyentuh kulit wanita yang tidak halal baginya` itu tidak dimaksudkan semata-mata bersentuhan kulit dengan kulit tanpa syahwat, sebagaimana yang biasa terjadi dalam berjabat tangan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa komentarnya.....

Ada kesalahan di dalam gadget ini